Pengadopsi Boneka Arwah Mengalami Gangguan Jiwa, Kasandra Putranto: Perhatikan Hal-hal Ini Dulu

- Kamis, 13 Januari 2022 | 15:30 WIB
Kasandra Putranto beri tanggapan fenomena boneka arwah  ((googleimages/ pikiran rakyat))
Kasandra Putranto beri tanggapan fenomena boneka arwah ((googleimages/ pikiran rakyat))
 
URBANJABAR.COM - Maraknya fenomena mengadopsi boneka arwah memunculkan beberapa pernyataan baik dari sisi Agama, Psikologi maupun sosial.
 
Ada beberapa pernyataan cukup keras bahwa pengadopsi boneka arwah atau spirit doll adalah orang yang mengalami gangguan jiwa bahkan mental.
 
Sebagai seorang Psikolog, Kasandara Putranto menyatakan bahwa perlu beberapa hal maupun pemeriksaan sebelum menghubungkan gangguan jiwa dengan tren mengadopsi boneka arwah.
 
Kasandara Putranto membuka pernyataan bahwa perilaku yang menggunakan boneka diperlakukan seperti manusia, dirawat, diajak bicara, diperlakukan seperti orang hidup itu sebenarnya ada beberapa jenis. 
 
 
Jenis pertama adalah memang pernah terjadi ada seorang tokoh terkenal di Rusia yang mengambil jenazah-jenazah anak-anak kecil lalu kemudian membungkusnya dan dirawat. 
 
Kasanda Putranto juga mengungkap ada jenis lainnya yang juga menggunakan boneka untuk menyakiti orang yang dikenal dengan Voodoo.
 
Ada pula yang menggunakan boneka untuk Terapeutik artinya dia bisa mengungkapkan rasa sayang dan boneka itu bisa menjadi sumber kasih sayangnya.
 
 
Namun, Kasandara Putranto menilai ada hal berbeda dari fenomena boneka yang sedang ramai dibicarakan dan seringkali banyak disebut boneka 
 
"Kelihatannya, memang ada dua unsur atau kemungkinan dari fenomena boneka arwah ini," ungkap Kasandar melalui channel Youtube voidotid.
 
Menurutnya unsur pertama adalah kecenderungan menjual story dari boneka arwah tersebut bahwa boneka ini dulu pernah hidup atau saat ini diisi oleh arwah dan lain sebagainya yang berhubungan dengan marketing.
 
 
Tujuan dari unsur yang pertama ini adalah kemungkinan bermaksud membuat seseorang jadi ingin membeli boneka arwah tersebut karena biasanya barang-barang yang ada ceritanya itu lebih laku.
 
"Jadi, ada unsur marketing di situ terutama kalau misalnya ternyata ditambah nanti boneka arwah bisa bawa rezeki, nanti bisa membawa ini dan itu." ungkap Kasandra.
 
"Nah, hal itu kadang-kadang ada semacam nilai-nilai tambah, nilai marketing, nilai penjualan yang akhirnya membuat boneka arwah ini lebih laku." tambahnya.
 
 
Ada pula unsur kedua dari fenomena boneka arwah memang hanya sebagai lucu-lucuan saja untuk menghibur, untuk bisa jadi cerita, untuk bisa jadi konten.
 
Apalagi sekarang, boneka arwah menjadi sebuah trend yang dilakukan oleh sekelompok tertentu yang kemudian diikuti oleh kelompok lainnya.
 
Terlepas dari banyaknya pro dan kontra bahkan MUI pun ikut memberikan pendapat, Kasandra ingin menanggapi fenomena boneka arwah dari sisi Psikologi.
 
 
Menurutnya sebagai seorang Psikolog, memberi pendapat dari sisi psikologi akan tergantung pada motif dan tujuan dari si pengadopsi boneka arwah tersebut.
 
Mungkin saja pengadopsi boneka arwah tersebut hanya menjadikannya sebagai bahan lucu-lucuan, bahan konten walaupun nantinya akan dikemas dengan hal-hal mistis.
 
"Kita tidak bisa mengambil kesimpulan bila pengadopsi boneka arwah ini memiliki gangguan jiwa atau men-judge mereka sakitlah, gitu nggak bisa." ungkap Kasandara.
 
 
Ia menyampaikan bahwa mengambil kesimpulan tersebut yaitu pemilik bkneka arwah mengalami gangguan jiwa harus dilakukan oleh orang yang memang punya kompetensi untuk memeriksa hal tersebut.
 
Pemilik boneka arwah pun harus menjalani proses pemeriksaan yang sudah ditentukan, menggunakan alat-alat tertentu yang sudah terstandarisasi bisa membuktikan bahwa orang-orang tersebut memang punya gangguan jiwa.
 
Selanjutnya, pemilik boneka arwah bisa dikatakan memiliki gangguan jiwa bila sudah jelas memenuhi kriteria diagnosa klinis misalnya adanya gangguan distorsi terhadap realita.
 
Kasandara juga menerangkan jika mungkin pemilik boneka arwag menjadi tidak mampu mengendalikan dorongan- dorongan antara realita, hal ini perlu di uji mungkin memang ada gangguan pada kejiwaan.
 
Lalu, bisa dikatakan ada gangguan jiwa ketika seseorang tidak mampu mengendalikan dorongan dorongan untuk bisa memiliki boneka arwah tersebut hingga memaksa dirinya untuk membelinya.
 
 
Menurut Kasandra, masalah ketidakmampuan mengendalikan impuls, tidak mampu mengendalikan dorongan untuk memiliki padahal dirinya tidak mampu memiliki bonrka arwah yang sedang tren juga bisa dikatakan memiliki gangguan jiwa.
 
Bisa juga dikatakan gangguan kejiwaan saat pemilik boneka arwah ini memiliki keinginan menimbun padahal sudah memiliki banyak benda tersebut atau membeli berulang-ulang benda yang sama.
 
Kasandra mengungkap bahwa keinginan memiliki, membeli terus menerus dan tidak pernah merasa puas adalah satu kemungkinan bila.pemilik boneka arwah seperti ini memiliki gangguan jiwa atau pada psikologinya.*** 

Editor: Fauzi Ghanim

Tags

Artikel Terkait

Terkini

Ini 7 Sekte Paling Berbahaya di Dunia, Bikin Ngeri

Sabtu, 15 Januari 2022 | 09:02 WIB
X