Dongeng Sebelum Tidur Untuk Anak Si Malin Kundang Cocok Dibacakan Untuk Anak Usia 1-5 Tahun

- Sabtu, 24 September 2022 | 00:08 WIB
Dongeng Sebelum Tidur Untuk Anak Si Malin Kundang Cocok Dibacakan Untuk Anak Usia 1-5 Tahun, Mempunyai Pesan Moral Tidak Boleh Durhaka Pada Ibu Yang Melahirkan Kita (Instagram @karyarief)
Dongeng Sebelum Tidur Untuk Anak Si Malin Kundang Cocok Dibacakan Untuk Anak Usia 1-5 Tahun, Mempunyai Pesan Moral Tidak Boleh Durhaka Pada Ibu Yang Melahirkan Kita (Instagram @karyarief)

URBANJABAR.COM - Membacakan dongeng sebelum tidur merupakan kebiasaan yang dilakukan ayah dan ibu. Membacakan dongeng yang dilakukan oleh orang tua harus menyesuaikan dengan usia anak.

Untuk ayah dan bunda yang mencari dongeng untuk dibacakan sebagai pengantar tidur usia 1-5 tahun, parents bisa bacakan dongeng malin kundang.

Dongeng ini memberikan pesan moral bahwa setiap kita harus menghargai dan tidak melupakan ibu yang sudah melahirkan ibu kita saat sukses nanti.

Baca Juga: Menyeramkan, Tafsir Mimpi Kalajengking Ini Harus Bikin Kita Selalu Koreksi Diri

Yuk Simak dongeng malin kundang!

Dahulu kala di Padang Sumatera Barat tepatnya di perkampungan Pantai Air Manis ada seorang janda bernama Mande Rubayah.

Ia mempunyai anak laki-laki bernama Malin Kundang. Malin sangat disayang oleh ibunya, karena sejak kecil Malin Kundang sudah ditinggal mati oleh ayahnya.
 
Malin dan ibunya tinggal di perkampungan nelayan. Ibunya sudah tua ia hanya bekerja sebagai penjual kue. Pada suatu hari Malin jatuh sakit. Tubuhnya mendadak panas sekali.

Mande Rubayah tentu saja sangat bingung. Tidak pernah Malin jatuh sakit seperti ini. Mande Rubayah berusaha sekuatnya untuk mengobati Malin dengan mendatangkan tabib.

Nyawa Malin yang hampir melayang itu akhirnya dapat diselamatkan berkat usaha keras ibunya. Setelah sembuh dari sakitnya ia main disayang.
 
Demikianlah Mande Rubayah sangat menyayangi anaknya. Sebaliknya Malin juga amat sayang kepada ibunya. Ketika sudah dewasa, Malin berpamit kepada ibunya untuk pergi merantau.
 
Pada saat itu memang ada kapal besar yang merapat di Pantai Air Manis. Meski dengan berat hati akhirnya Mande Rubayah mengizinkan anaknya pergi. Malin dibekali dengan nasi berbungkus daun pisang sebanyak tujuh bungkus.
 
Hari-hari berlalu terasa lambat bagi Mande Rubayah. Setiap pagi dan sore Mande Rubayah memandang ke laut. Jika ada ombak dan badai besar menghempas ke pantai, dadanya berdebar-debar.
 
Ia menengadahkan kedua tangannya sembari berdoa agar anaknya selamat dalam pelayaran. Jika ada kapal yang datang merapat ia selalu menanyakan kabar tentang anaknya.
 
Tetapi semua awak kapal atau nakhoda tidak pernah memberikan jawaban yang memuaskan. Malin tidak pernah menitipkan barang atau pesan apapun kepada ibunya.

Itulah yang dilakukan Mande Rubayah setiap hari selama bertahun-tahun. Tubuhnya semakin tua semakin dimakan usia. Jika berjalan ia mulai terbungkuk-bungkuk.
“Ibu sudah tua Malin, kapan kau pulang ….” Rintih Mande Rubayah tiap malam.

Namun hingga berbulan-bulan semenjak ia menerima kabar, Malin belum juga datang menjenguknya. Namun ia yakin bahwa pada suatu saat Malin pasti akan kembali.
Harapannya terkabul.

Pada suatu hari yang cerah dari kejauhan tampak sebuah kapal yang indah berlayar menuju pantai. Kapal itu megah dan bertingkat-tingkat. Orang kampung mengira kapal itu milik seseorang pangeran. Mereka menyambutnya dengan gembira. Ketika kapal itu mulai merapat. Tampak sepasang muda mudi berdiri di anjungan.

Pakaian mereka berkilauan terkena sinar matahari. Wajah mereka cerah dihiasi senyum. Mereka Nampak bahagia karena disambut meriah. Mande Rubayah ikut berdesakan melihat dan mendekati kapal.

Jantungnya berdebaran keras. Dia sangat yakin sekali bahwa lelaku muda itu adalah anak kesayangannya si Malin Kundang.

Halaman:

Editor: Maria Endah Yulindreswari

Sumber: Instagram @karyarief

Tags

Artikel Terkait

Terkini

X