• Senin, 20 September 2021

5 Puisi Wiji Thukul tentang Kehidupan Sosial

- Selasa, 7 September 2021 | 23:39 WIB
Lukisan Wiji Thukul. (YLBHI)
Lukisan Wiji Thukul. (YLBHI)

URBANJABAR.COM, SASTRA - Wiji Thukul memang sudah tiada, tetapi puisi Wiji Thukul tetap bersuara hingga detik ini.

Sejak 27 Juli 1998, pria yang lantang menyuarakan kegelisahan rakyat ini menghilang. Sampai detik ini pun, Wiji Thukul menghilang. Sekali lagi, tetapi puisi Wiji Thukul masih bersuara lantang.

Wiji Thukul lahir dari kalangan menengah bawah di Sorogenen, Solo. Dia sudah mulai menulis puisi sejak SD.

Pria kurus nan sederhana ini. Bersama Munir, Wiji Thukul menjadi simbol perjuangan hak asasi manusia dan keadilan atas penindasan semena-mena aparat dan negara.

Berikut 5 puisi Wiji Thukul tentang Kehidupan Sosial:

1. Nyanyian akar rumput

jalan raya dilebarkan
kami terusir
mendirikan kampung
digusur
kami pindah-pindah
menempel di tembok-tembok
dicabut
terbuang
kami rumput
butuh tanah
dengar!
ayo gabung ke kami
biar jadi mimpi buruk presiden!

juli 88

2. Catatan malam

anjing nyalak
lampuku padam
aku nelentang
sendirian
kepala di bantal
pikiran menerawang
membayang pernikahan
(pacarku buruh harganya tak lebih dua ratus rupiah per jam)
kukibaskan pikiran tadi dalam gelap makin pekat
aku ini penyair miskin
tapi kekasihku cinta
cinta menuntun kami ke masa depan

solo-kalangan, 23 februari 88

Kehidupan di sudut kota Jakarta. (Socrates Bangun via Pexels.com)
3. Gumam sehari-hari

di ujung sana ada pabrik roti
kami beli yang remah-remah
karena murah
di ujung sana ada tempat penyembelihan sapi
dan kami kebagian bau
kotoran air selokan dan tai
di ujung sana ada perusahaan daging abon
setiap pagi kami beli kuahnya
dimasak campur sayur
di pinggir jalan
berdiri toko-toko baru
dan macam-macam bangunan
kampung kami di belakangnya
riuh dan berjubel
seperti kutu kere kumal
terus berbiak!
membengkak tak tercegah!

Halaman:

Editor: Chairul Umam

Tags

Artikel Terkait

Terkini

X